marah
itu perasaan yang ingin ku katakan
tapi kenapa harus marah
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 30 April 2009
makian hati
Ah
ya itu aja kali ya
kalau mata ini lelah ya tidur aja
ku ingin memaki diri ku ini
tapi entah lah ya
seseorang yang mampu mengaku kalah
tu baru hebat
kata pepatah
tapi seyang kali ini pepatah itu salah
ya itu aja kali ya
kalau mata ini lelah ya tidur aja
ku ingin memaki diri ku ini
tapi entah lah ya
seseorang yang mampu mengaku kalah
tu baru hebat
kata pepatah
tapi seyang kali ini pepatah itu salah
Label:
Puisi
Selasa, 06 Januari 2009
Lemon tea Hati ku
tadi pagi mentari bersinar begitu indah
tapi kini lihat lah langit kawan !!
ia terlihat kabut............
di mana-mana gelap
angin bergerak lebih kencang dari biasanya
wah pasti akan ada badai malam ini kawan
tapi kini lihat lah langit kawan !!
ia terlihat kabut............
di mana-mana gelap
angin bergerak lebih kencang dari biasanya
wah pasti akan ada badai malam ini kawan
Label:
Puisi
Rabu, 14 Mei 2008
“R e i n k a”
Jangan kau jauh dariku
Dengan segala yang ada
Reinka adanya dirimu
Gambarkan indahnya dunia
Dalam setiap waktuku
Keindahan Reinka terpancar dari senyumnya
Melebihi leluknya bulan malam
Rasa ini, rasa padamu
Tak dapat digambarkan oleh seorang pelukis
Tak dapat diungkapkan oleh seorang penyair
Tak dapat diujir oleh seorang pemahat
Ya Allah ........
Maha Suci Engkau
Engkau ciptakan dia
Engkau ciptakan perasaan ini
Perasaan yang sama dengan Adam kepada Hawa
Reinka satu pintaku!
Jangan Engkau paksa aku untuk memakan buah itu
Buah terlarang......
Seperti yang dipinta Hawa kepada Adam
Agar kita tidak keluar dari syurga ini
Dengan segala yang ada
Reinka adanya dirimu
Gambarkan indahnya dunia
Dalam setiap waktuku
Keindahan Reinka terpancar dari senyumnya
Melebihi leluknya bulan malam
Rasa ini, rasa padamu
Tak dapat digambarkan oleh seorang pelukis
Tak dapat diungkapkan oleh seorang penyair
Tak dapat diujir oleh seorang pemahat
Ya Allah ........
Maha Suci Engkau
Engkau ciptakan dia
Engkau ciptakan perasaan ini
Perasaan yang sama dengan Adam kepada Hawa
Reinka satu pintaku!
Jangan Engkau paksa aku untuk memakan buah itu
Buah terlarang......
Seperti yang dipinta Hawa kepada Adam
Agar kita tidak keluar dari syurga ini
Label:
Puisi
R i e n
Rien, maafkan aku
Sebenarnya aku juga tak mau meranggas
Tapi ranting hatiku telah patah
Dan batangnya takmampu lagi Menahan angin yang datang
Rien, telah ku ambil tanah ini
Biar daun-daun hatiku gugur
Dan tak bernyawalagi
Dalam kesendirian…
Biar tak ada benalu dan lalang
Yang wajar disalahkan
Jika kau dapatkan daun hatiku yang gugur
Jangan coba mendatanggiku
Dengan menburkan unsur persahabatanmu
Karena aku tak mau…
Aku tumbuhan larangan
Ynag tumbuh ditanah gersang…
Sebenarnya aku juga tak mau meranggas
Tapi ranting hatiku telah patah
Dan batangnya takmampu lagi Menahan angin yang datang
Rien, telah ku ambil tanah ini
Biar daun-daun hatiku gugur
Dan tak bernyawalagi
Dalam kesendirian…
Biar tak ada benalu dan lalang
Yang wajar disalahkan
Jika kau dapatkan daun hatiku yang gugur
Jangan coba mendatanggiku
Dengan menburkan unsur persahabatanmu
Karena aku tak mau…
Aku tumbuhan larangan
Ynag tumbuh ditanah gersang…
Label:
Puisi
“R e i n k a”
Hati kecil berbisik
Terhadap cahaya darimu
Gerakan tubuh yang tak dapat terkendali
Entah mengapa selalu tentangmu
Suara alam berbisik padaku
Tentang sebuah nama ............
Reinka ......
Begitu suara itu terdengar
Seakan suara itu benar nyata
Segala tahta angkasa melantunkannya
Reinka ............
Terus mengajukan raga ini
Dalam luka hati yang kelam
Wahai zat pencinta yang ghaib
Akankah suara itu benar
Dapatkah ia menuntun kepadamu
Terhadap cahaya darimu
Gerakan tubuh yang tak dapat terkendali
Entah mengapa selalu tentangmu
Suara alam berbisik padaku
Tentang sebuah nama ............
Reinka ......
Begitu suara itu terdengar
Seakan suara itu benar nyata
Segala tahta angkasa melantunkannya
Reinka ............
Terus mengajukan raga ini
Dalam luka hati yang kelam
Wahai zat pencinta yang ghaib
Akankah suara itu benar
Dapatkah ia menuntun kepadamu
Label:
Puisi
Jambo atau Sejarah”
Ketika jalan kembali sunyi
Ketika malam tak lagi damai
Ketika kesunyian merasukiku
Ketika kedamaian yang kurasa hilang
Tapi kini adakah keadaan itu
Haruskah malam ini sibuk
Hingga makhluk kecil yang hidup
Antara impian dan kenyataan
Antara tambo dan sejarah
Manakah yang lebih ku ingin
Semuanya terdiam.....
Jam dinding pun, kini tak dapat lagi berdetak
Antara sejarah dan tambo
Antara kenyataan dan mimpi
Antara hidup dan mati
Tak seorang pun tahu
Tak seorang pun yang dapat membedakannya
Ketika malam tak lagi damai
Ketika kesunyian merasukiku
Ketika kedamaian yang kurasa hilang
Tapi kini adakah keadaan itu
Haruskah malam ini sibuk
Hingga makhluk kecil yang hidup
Antara impian dan kenyataan
Antara tambo dan sejarah
Manakah yang lebih ku ingin
Semuanya terdiam.....
Jam dinding pun, kini tak dapat lagi berdetak
Antara sejarah dan tambo
Antara kenyataan dan mimpi
Antara hidup dan mati
Tak seorang pun tahu
Tak seorang pun yang dapat membedakannya
Label:
Puisi
“Kelembutan Cahaya”
Seberkas cahaya di kala malam
Yang membuat damai hati
Yang mengisi malam bersama bulan
Dalam setiap masa
Cahaya gaibmu yang lembut
Mencairkan kebekuan dalam hati
Yang menerangi di kala gelap hati
Pelita yang tak dapat di tukar
Walaupun dengan kemilau logam mulia
Cahaya yang kan ku jaga langsung
Kehangatan yang dapat mengajukanku
Dalam dingin hati yang beku
Yang mengeluarkan nada pilu
Bagai sangka kala di hari akhir
Yang membuat damai hati
Yang mengisi malam bersama bulan
Dalam setiap masa
Cahaya gaibmu yang lembut
Mencairkan kebekuan dalam hati
Yang menerangi di kala gelap hati
Pelita yang tak dapat di tukar
Walaupun dengan kemilau logam mulia
Cahaya yang kan ku jaga langsung
Kehangatan yang dapat mengajukanku
Dalam dingin hati yang beku
Yang mengeluarkan nada pilu
Bagai sangka kala di hari akhir
Label:
Puisi
“K a u”
Kau........
Kau yang telah merawatku
Kau yang telah membesarkanku
Tak apa walau nyawa hilang
Kau tetap merawatku ...........
Kau ajarkan aku bicara
Kau ajarkan aku berjalan
Kau ajarkan aku berhitung
Tapi apa yang telah kulakukan untukmu
Ku memakimu......
Ku menghindarimu.....
Ku menghitung, apa yang telah
Ku beri untukmu.........
Tak pernah ku tahu perasaanmu
Hingga disini dan detik ini
Kau pergi dengan tenang
Disini...........
Aku terpaku sendiri
Menatap seonggok tanah di depanku
Dan teringat apa saja yang
telah ku berikan untukmu
Kau yang telah merawatku
Kau yang telah membesarkanku
Tak apa walau nyawa hilang
Kau tetap merawatku ...........
Kau ajarkan aku bicara
Kau ajarkan aku berjalan
Kau ajarkan aku berhitung
Tapi apa yang telah kulakukan untukmu
Ku memakimu......
Ku menghindarimu.....
Ku menghitung, apa yang telah
Ku beri untukmu.........
Tak pernah ku tahu perasaanmu
Hingga disini dan detik ini
Kau pergi dengan tenang
Disini...........
Aku terpaku sendiri
Menatap seonggok tanah di depanku
Dan teringat apa saja yang
telah ku berikan untukmu
Label:
Puisi
“T a u b a t”
Aku mohon apa yang terjadi, terjadilah ........
Dengan dosa setinggi gunung
Aku menghadap padamu
Wahai Tuhanku
Dengan hitam gelap hati ini
Moga kau terima taubatku
Hambamu yang hina inim, Ya rahman .........
Ya rohim....., aku memanggilmu
Hanya cinta kepada Engkaulah cinta yang sejati
Hanya Engkaulah tempat berpijak
Dengan apa yang kupunya , Aku bersimpuh dihadapMu
Wahai zat yang maha adil
Dengan merendah diri dihadapmu
Dengan apa yang ku punya, yang berharga.
Aku tak pernah tahu, apa yang akan terjadi
Ya rahman .......
Ya rahim......
Aku telah ria dihadapmu
Dengan tangan hampa aku ada di dekatmu
Memohon ampun padamu
Dengan dosa setinggi gunung
Aku menghadap padamu
Wahai Tuhanku
Dengan hitam gelap hati ini
Moga kau terima taubatku
Hambamu yang hina inim, Ya rahman .........
Ya rohim....., aku memanggilmu
Hanya cinta kepada Engkaulah cinta yang sejati
Hanya Engkaulah tempat berpijak
Dengan apa yang kupunya , Aku bersimpuh dihadapMu
Wahai zat yang maha adil
Dengan merendah diri dihadapmu
Dengan apa yang ku punya, yang berharga.
Aku tak pernah tahu, apa yang akan terjadi
Ya rahman .......
Ya rahim......
Aku telah ria dihadapmu
Dengan tangan hampa aku ada di dekatmu
Memohon ampun padamu
Label:
Puisi
Kamis, 23 Agustus 2007
Langganan:
Postingan (Atom)